"Apa yang kita bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin. Ujung-ujungnya kita tahu kok, mana yang diri kita sebenernya, mana yang bukan diri kita. Dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalani." - Keenan, Perahu Kertas"
Untuk kalian yang butuh pencerahan atas diri dan apa yang kalian mau saat ini, gue sarankan untuk membaca novel 'Perahu Kertas'. This is not kind of promotion hahaha, I just suggest you. Karena besides of novel itu adalah novel cinta, tapi itu juga novel yang mengajarkan sisi hidup, tentang impian-impian dan bagaimana akhirnya menentukan apa yang kita mau karena dunia yang tidak bekerja sesimple apa yang kita bayangkan
Sebagai seorang mahasiswa dari salah satu PTN ternama di Indonesia walaupun belom setingkat UGM atau UI hahaha, tapi PTN gue cukup diminati di kalangan pelajar Indonesia yaitu UB alias Universitas Borjouis eh maksudnya Brawijaya, yang mana sebenernya gue tidak bermimpi untuk masuk sini. Iya, sih. Gue emang pengennya masuk UGM, tapi impian gue pun awalnya juga bukan UGM. Kalo kalian baca postingan gue yang #AkuInspirasiku, yes I wrote that UGM was my dream university tapi itu cuma keperluan lomba aja hahaha, ya kali gue nulis mau masuk Oxford tapi ikut UTBK. Kan gak ada Oxford jalur SBMPTN. Dan the truth is saat UTUL UGM gue ngelewatin testnya, bukan gak lolos. Karena gue pikir kalau udah bayar UKT gak bisa di refund jadi gue memilih UB disaat gue sebenernya bisa masuk UGM. The dumbest choice I've ever taken.
Zaman Pas Lagi Idealis-Idealisnya
Impian gue agak terhalang karena gue masuk pondok pesantren yang ibaratnya salah satu program wajib bagi setiap anak di keluarga. Mama gue yang seorang mualaf (saat nikah sama papa dulu) merasa gak cukup ilmu dan gak mampu memberikan anak-anaknya pelajaran agama, makanya mama pengen kita semua ngerasain masuk pondok to at least get some religious values. Gue gak sekesel itu dipondokkin, tapi gue merasa gue gak akan bisa maksimal mempersiapkan diri untuk masuk Oxford. Gue emang masuk kelas internasional juga di pondok, tapi diarahkan untuk masuk ke universitas di Malaysia, bukan Oxford.
Idealis sekali gue kala itu, gue yang selalu percaya kalau gue pasti bisa masuk Oxford, walaupun bahasa inggris belum bagus-bagus amat (
Idealisme dan optimisme seorang Nindy sempat tinggi-tingginya melambung saat dinyatakan akan dikirim ke Amerika Serikat dalam program pertukaran pelajar setelah ikut berbagai seleksi. Katanya pondok gue itu udah kerja sama dengan Kedubes AS dan gue yang terpilih untuk jadi perwakilan. At the end, gak ada kabar lalu pihak pondok berdalih semua itu ada misscommunication jadi dibatalkan. Wtf, gue langsung mental breakdown. Mana seluruh pondok, keluarga, tetangga udah pada tau (padahal emak gue kaga ngomong-ngomong *bataviansound hahaha*).
Sejak saat itu gue mulai kehilangan kepercayaan diri gue. Butuh setahun buat nyembuhin luka gue karena diphpin itu, itu lebih parah dari sekedar udahan sama doi seriously hahaha. Karena gue udah punya bayangan what would I do there, what would I get, dan pastinya itu akan memudahkan jalan gue untuk kuliah di luar negeri.
Satu tahun setelah itu gue menemukan jalan termudah selain Oxford yaitu Toronto University di Kanada, pendaftarannya jelas lebih mudah karena menerima Ijazah SMA, sedangkan Oxford harus pake IB atau A-Level. Tapi tetap aja terlalu mepet persiapannya, dan nyokap udah bilang lebih baik di dalam negeri dulu.
Being More Realistic
Singkat cerita setelah drama-drama dan other shits. Gue masuk UB dan memulai kehidupan baru gue, jauh dari orang tua dan rumah. Di sini gue menemukan banyak sekali hal yang membuat gue sadar kalau gue belum apa-apa. Ada banyak orang yang punya kemampuan lebih dari gue, ada banyak orang yang lebih jago bahasa inggrisnya dan bahkan bisa bahasa lain selain bahasa inggris. Gue bahasa perancis aja masih di tahap Bonjour! dan kosakata karena ga ngerti grammarnya wkwk.Di jurusan sendiri, gue cuma buih yang belum bisa memunculkan prestasi apa-apa, terlalu insecure karena beberapa alasan sampe gak pede untuk ikut-ikutan kompetisi. Banyak sekali orang hebat di UB ini, gue juga akhirnya mengenal kakak kelas alumni pondok gue yang ternyata ketua DPM Pusat dan akhirnya sekarang kepilih jadi Presiden EM (BEM tingkat Univ). Dia udah pernah ikutan Harvard MUN, sementara gue masuk MUNClub di UB aja ketolak hahaha. Ikut seleksi AIESEC salah satu non-govermental leadership organization yang jadi kepanjangan tangan United Nations pun gagal karena gue emang belum apa-apa sementara banyak sekali yang lebih hebat. Lengkap sekali daftar kegagalan gue ya wkwk.
Gue juga dapet nilai pas-pasan di UTS kemarin, makin menambah daftar panjang kepayahan gue yang akhirnya membuat gue jadi lebih malas, gak punya semangat belajar yang gue bawa dari Jakarta jauh-jauh sampe Malang. Gue berubah dari Nindy yang ambis banget ke Nindy yang akhirnya lebih realistis sama hidup. I'm so pathetic. Mungkin bukan realistis, tapi lebih ke pesimis. Pengen dapet IPK diatas 3,5 tapi malas-malasan begini? Gimana coba?
Gue juga kepikiran untuk mengulang lagi tahun depan biar masuk UGM, atau mencoba lagi ke Toronto University. Karena teman-teman gue juga banyak yang mau mengulang lagi. Tapi gue sadar itu membuang-buang uang orang tua yang udah banyak dikeluarkan buat gue. Gue satu-satunya anak dari lima bersaudara yang paling banyak menghabiskan uang orang tua gue. Berarti gue harus tahu diri untuk gak memaksakan kehendak gue.
A little time passed, gue mulai bertanya-tanya sama diri gue "Apa mau gini-gini aja? Apa mau cuma jadi mahasiswa yang pas lulus nanti susah cari kerja atau gak punya tujuan?" gue sadar kegagalan gue itu harusnya jadi batu loncatan bagi gue untuk terus mencoba lagi dan lagi. Walaupun berkali-kali gagal itu menyakitkan, kenyataannya orang-orang berpengaruh di dunia mengalami kegagalan ratusan bahkan ribuan kali. Tapi gue gak yakin sama kemampuan gue, makanya gue mau realistis aja dan letting everything flow.
Gue yang dulunya idealis sekali, punya impian besar yang agak 'gak tahu diri' untuk masuk ke salah satu top worldwide university dihancurkan oleh kegagalan-kegagalan kecil sejak masuk kuliah. Pemikiran gue berubah jadi lulus-cari kerja-nikah. Sampe akhirnya gue berdiskusi dengan beberapa teman yang juga sama-sama gagal dengan gue. And one of them told me that she would do anything to reach her goals whether it's aiesec or sth others. Dia juga bilang kalau kita terlalu muda untuk berakhir dalam pernikahan. Bahkan lebih ekstrimnya lagi dia bilang gak mau nikah sampe ada cowok yang bisa meyakinkan dia kalau nikah itu gak merepotkan. Wkwkwk hebat, gue terpersuade dengan perkataan dia sampe impian gue untuk ke Oxford itu muncul lagi.
Getting Back My Optimism and Being Idealist in Realistic Way
Gue mulai membangun lagi niat-niat gue sejak akhirnya gue bersama BLIDZ klub fotografi gue di fakultas berhasil menyelesaikan pameran akhir tahun dimana gue dipercaya menjadi bagian perkap yang walaupun gak terlalu berperan sebanyak sie acara tapi gue mulai menemukan kepercayaan diri lagi untuk mencoba. Gue mulai menemukan banyak teman baru, menemukan sedikit orang yang bisa dipercaya, dan juga cinta hehehe. Soal cinta baru ini masih to be continued karena doi sendiri gak tau dan gue gak mau terlalu dikontrol sama perasaan due to the experience when I was in SHS.
Gue ikutan banyak program mulai dari seleksi Beasiswa Teladan Tanoto Foundation yang penuh pengorbanan padahal awalnya cuma iseng. Gue harus balik ke Jakarta dengan segala keburu-buruan untuk mengurus berkas, lalu dilema saat ada kesalahan dalam formulir gue yang menyebabkan gue pesimis untuk lolos tahap berikutnya. Suprisingly, gue lolos tahap berkas dan besok 25 November 2019 akan ikut test psikotest dan kepribadian. Gue sedikit kaget karena berhasil lolos. Tapi ya alhamdulillah, ternyata Allah masih mengizinkan gue untuk lolos. Akhirnya gue sadar kalau gue harus berjuang untuk ini. Mohon doanya ya hahaha. Kalo gue berhasil jadi scholar itu akan sedikit membantu gue dalam pengembangan diri dan gue janji pasti akan menulis lagi tentang Tanoto ini dipostingan selanjutnya.
Lalu gue ikut berbagai program mulai dari Local Volunteernya AIESEC, AKSI Volunteering ke NTT, dan Kepanitiaan Brawijaya English Tournament salah satu ajang kompetisi bergengsi tingkat nasional yang diadakan oleh FORMASI UB. Gue juga anggota FORMASI tapi gue gak pernah ikut practice karena jadwal bentrok. Semua seleksi dari program-program itu udah gue lewatin dan tinggal menunggu pengumuman dalam waktu-waktu dekat ini. Gue sudah sangat siap mendengar kata gagal lagi, karena gue sadar kalau inilah hidup. Gak semulus yang kita kira.
Gue pikir semua hal yang gue lalui selama satu semester ini telah perlahan-lahan mendewasakan gue, gue juga mulai berani untuk keluar dari zona nyaman. Melalui interview-interview yang gue lalui dan beberapanya itu gagal, gue menemukan beberapa hal yang menjadi kekurangan dan kelebihan gue yang perlu dikembangkan dan diperbaiki. Gue juga mulai menemukan apa yang gue mau ke depannya. Apa yang harus diperjuangkan, apa yang harus dilakukan, dan apa yang akan gue lakukan dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam hidup gue.
Eventually I learnt, kehidupan kampus ini adalah miniatur dari kehidupan gue yang lebih complicated lagi setelah lulus nanti. Jadi gagal adalah hal biasa, kecewa sudah lumrah dan gue siap untuk selalu bangkit dan mencoba. Gue gak tau kapan akan tiba dititik terendah gue lagi. Tapi gue percaya akan ada masanya gue berhasil dengan segala perjuangan gue. Realistis dalam menghadapi hidup itu perlu, tapi gak ada salahnya untuk tetap mempertahankan idealisme kita. Tetap bermimpi setinggi-tingginya tetap berusaha mengimprovisasi diri untuk mencapai semua itu.
Seperti mantra yang selalu gue ucapkan berulang-ulang, Man jadda wa jada.
Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia.
Keep progressing, semangat!
Nindy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar