Ia memang suka
membandingkan dirinya dengan orang-orang. Seorang sarjana pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta yang sudah lulus 6 bulan lalu belum punya pekerjaan
yang membuatnya dipandang, ia hanya menjadi seorang content writer di
sebuah agensi majalah. Untungnya ia belum mendengar cibiran dari para tetangga,
ayahnya sendiri juga belum membandingkannya dengan kakak-kakak sepupunya.
Makanya terkadang juga ia masih nyaman-nyaman saja.
Baguslah.
Ia tidak
perlu terburu-buru.
Karena ia
sendiri masih mempertanyakan apa yang harus ia lakukan dengan embel-embel
‘pendidikan’ di belakang namanya. Semua ini
pilihan ayahnya, karena ayahnya adalah seorang dosen di sebuah universitas
negeri ternama. Padahal, kakak-kakaknya tidak pernah dipaksa mengikuti jejak
sang Ayah. Kenapa ia justru harus mengikuti kemauan ayahnya? Berkuliah di
jurusan yang tidak pernah ia inginkan sejak awal.
|
Dita kembali menyeruput kopinya sampai habis, kemudian mengecek pesan yang masuk ke ponselnya.
Dita segera
memasukkan laptopnya ke tas dan meninggalkan kafe itu. Lagipula ia memang harus
pulang, sudah mulai sore dan ia sudah berjam-jam duduk dan berkutat dengan
artikelnya. Menjadi bagian dari hiruk pikuk kota yang berumur hampir lima abad
itu sepertinya tidak buruk, walaupun melelahkan pada akhirnya.
Ia pun
menapaki trotoar yang terlihat mulai sedikit rusak dimakan usia. Sambil
berjalan menuju stasiun ia termenung melihat keramaian Tanah Abang yang sudah
berkali-kali ia lihat, akan tetapi baru kali ini menampar hati nuraninya. Bukan
tentang para pedagang terlihat kelelahan lalu mulai menutup kios-kios besar mereka,
mereka pasti sudah meraup banyak keuntungan dan mengantongi banyak uang. Tapi
ini tentang anak-anak kecil dengan baju kumal bahkan ada yang sudah
compang-camping, mencari rezeki di tengah-tengah kemacetan dan keramaian.
“Kak, mau
beli kacang?” sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Dita
kemudian menunduk dan melihat anak laki-laki yang mungkin baru berumur sekitar
tujuh tahun, menawarkan dagangannya padanya. Anak kecil itu menggunakan pakaian
yang lusuh, wajahnya pun terlihat kusam karena mungkin sudah seharian
menjajakan dagangan dan terkena debu juga asap kendaraan.
“Anak
sekecil ini? Bukannya dia harusnya di rumah dan belajar?” hatinya bersuara,
tidak kuasa melihat anak kecil yang ada di hadapannya saat ini.
Dita pun berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan anak laki-laki
tersebut, “Satu bungkus berapaan, Dek?” tanyanya lembut.
“Dua ribu,
Kak.”
Tanpa
berpikir panjang Dita langsung mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari
dompetnya dan memberikannya kepada anak laki-laki itu, “Kakak beli lima puluh
ribu ya,” ujarnya seraya tersenyum
Mata
anak laki-laki itu serta merta berbinar-binar karena senang, mungkin baru kali
ini ada yang mau membeli sebanyak ini kacang-kacangnya. Ia terlihat gemetar
mengambil lembaran berwarna biru itu, kemudian memberikan seplastik penuh
berisi bungkus-bungkus kacang yang sudah mendingin kepada Dita.
“Makasih
banyak udah mau beli daganganku, Kak. Dari pagi aku keliling gak ada yang mau
beli,” ucap anak itu tulus, matanya berbinar senang dan haru.
Dita
tersenyum kemudian mengelus-elus kepala anak itu, “Sama-sama ya, Dek. Itu untuk
kamu makan ya, jangan di pakai untuk yang gak perlu,” kata Dita yang disambut
anggukan oleh anak itu.
Anak
itu kemudian pergi meninggalkan Dita yang masih terpaku dengan hatinya yang
tersentuh. Ia tinggal di kota metropolitan ini sejak ia lahir, dan sejak lahir
pula ia hidup serba berkecukupan. Mungkin anak itu ingin sekali bisa
sepertinya, lulus sampai sarjana dan mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi
justru seorang sarjana sepertinya malah tidak menggunakan ilmu yang ia dapatkan
selama berkuliah dengan baik.
Ditengah
kegundahan yang Dita rasakan tepat di tengah keramaian Tanah Abang sore itu, tiba-tiba
saja seseorang mencoba mengambil dompetnya.
Dita
yang merasakannya dan terkejut, sontak ia menoleh dan melihat seorang gadis
kecil yang berlari membawa dompetnya. Gadis kecil itu berumur sekitar delapan
tahun. Tetapi belum jauh gadis itu berlari, seorang anak laki-laki berumur
sekitar dua belas tahun menangkapnya dan menyeretnya kembali ke tempat Dita
berdiri.
Anak
laki-laki itu menyodorkan dompet kulit miliknya, “Ini punya kakak, kan? Maafin
adikku ya, kak,” ucapnya tulus.
Dita
tertegun, “Adiknya?”
Dita
mengambil dompetnya dari tangan anak laki-laki itu, lalu terdiam melihat anak
laki-laki itu mengomeli gadis kecil yang ia katakan sebagai adiknya. Ia bahkan
belum sempat berteriak kalau ia kecopetan.
“Abang
kan udah bilang, jangan sekali-kali mencuri! Itu haram, Van. Kamu mau makan
makanan haram, hah?” bentak anak itu ke adiknya
Gadis
kecil itu mulai menangis, “Aku laper, Bang. Aku nungguin Abang gak
dateng-dateng,” kata gadis itu kemudian sesegukan
“Tapi
gak berarti kamu harus mencuri! Siapa yang ngajarin kamu? Sekarang kamu minta
maaf ke kakak ini, ayo cepet!” perintahnya yang membuat adiknya semakin
menangis
Dita
hanya tersenyum, “Udah, Dek. Gak apa-apa, kakak ngerti. Terimakasih sudah jadi
anak yang jujur ya,” Dita kemudian duduk menyejajarkan tingginya ke gadis kecil
yang tengah menangis itu
Gadis
kecil itu mulai berhenti menangis, “Maafin aku, ya, Kak. Aku dan Abang habis
ngamen terus uang kami dicuri, aku kelaparan. Sudah 4 hari gak makan. Makanya
aku niat ngambil uang kakak. Maaf, ya, Kak,” ujar gadis itu menyesal
Pernyataan
gadis itu membuatnya merasa tertampar dengan kenyataan-kenyataan di sekitarnya.
Hidupnya tidak sekeras yang bocah-bocah kecil itu rasakan. Ia bahkan tidak
pernah merasakan sulitnya cari uang seperti mereka Ternyata ia selama ini hanya
menjadi orang yang sama dengan kebanyakan orang di ibukota. Apatis dan egois.
“Kalau
gitu..,” Dita pun mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikannya
kepada mereka, “.. ini untuk kalian makan ya, jangan sampai hilang lagi,” kata
Dita lalu mengelus-elus kepala gadis kecil itu
Anak
laki-laki itu melotot kaget, “Eh.. eh.. Kak, jangan. Adikku kan tadi berniat
mencuri dari kakak, masa kakak malah kasih kami uang. Cukup maafin kami saja,
Kak. Gak apa-apa,” tolak sang Abang halus
Dita
tetap memaksa, ia mengambil lengan anak laki-laki itu dan meletakkan uang
seratus ribu itu di genggaman tangannya, “Gak apa-apa, anggap aja ini rezeki
kamu.
Anak
laki-laki itu menahan tangis, “Terimakasih banyak, Kak. Maaf kami merepotkan.”
Anak laki-laki itu memegangi tangan Dita, benar-benar berterimakasih.
“Siapa
nama kalian?” tanya Dita.
“Namaku
Bima dan ini adikku Ivana.”
“Kalian
tinggal dimana?”
“Kami
tinggal di kolong jembatan sana, Kak,” jawab Ivana seraya menunjuk ke arah
tempat yang mereka ia maksud.
Dita
kemudian melihat ke arah Bima. Bima melotot dan ia terlihat ketakutan melihat sesuatu
dari arah lain, “V-van.. Kita harus kembali,” ucapnya dengan nada ketakutan,
Ivana yang kemudian melihat ke arah yang sama dengan Bima sontak ikut
ketakutan.
“Kalian
kenapa?” tanya Dita kebingungan
“WOY
BOCAH NGAPAIN KALIAN NGOBROL BUKANNYA KERJA, HAH!?” suara garang seorang pria
tiba-tiba terdengar, membuat terkejut Dita dan anak-anak kecil yang tengah
bersamanya.
Pria
itu berbadan tinggi besar, umurnya mungkin sudah 35 tahun. Ia menggunakan
pakaian yang mungkin bisa dikatakan seperti preman jalanan pada umumnya. Pria
itu menghampirinya lalu menarik tangan kedua bocah itu., “Kalian.. Bukannya
kerja, cari uang buat makan, malah santai-santai di sini. Gangguin orang yang
lagi belanja. Sana cepat kerja lagi!” bentak pria itu lalu mendorong Bima dan
Ivana dengan kasar
Dita
merasa kesal dan perilaku pria itu pada bocah-bocah malang yang barusan ia
tolong itu, “Abang bisa gak, jangan kasar sama mereka!? Ini salah saya yang
ganggu mereka,” kata Dita dengan nada tinggi
Pria
berbadan besar itu menatapnya sengit, “Lu tau apa sih soal mereka, hah? Kalo
mereka dilembutin nanti manja, gak bisa dipake buat cari makan!” bentak pria
itu
“Loh,
cari kerja tuh ya pake tenaga sendiri! Kok situ malah memanfaatkan anak-anak?
Gak malu sama badan?” balas Dita sengit yang membuat pria besar itu terlihat
marah.
Tangan
pria itu terangkat ke atas bersiap untuk menampar Dita yang justru malah
membalas dengan wajah sengit. Ia tak takut sama sekali, “BANYAK OMONG LU, YA!!”
teriak pria itu yang membuat matanya terpejam. Ia bersiap merasakan tamparan
pria besar itu, tapi ternyata sebuah tangan menahan tangan pria itu.
“Zulfan!?”
Zulfan
menepis tangan pria besar itu dan berdiri di depan Dita, “Kamu gak apa-apa,
Dit?”
Dita
hanya mengangguk. Ia sebenarnya agak terkejut dengan kehadiran Zulfan yang
tiba-tiba begini, tapi setidaknya ia bersyukur karena tidak jadi merasakan
tamparan pria besar dihadapannya.
“Lu
jangan ikut campur!” desis pria itu.
Zulfan
terlihat marah, matanya melotot seperti ingin keluar, “Laki-laki macem apa lu!?
Beraninya kasar sama perempuan, sini kalo mau lawan gue!” tantang Zulfan
Zulfan
pun memukul wajah pria itu yang akhirnya dibalas dengan pukulan tepat diperut
Zulfan. Sontak Dita kaget dan mulai ketakutan.
“Zulfan!”
teriaknya
Zulfan
justru tersenyum sengit yang membuat pria besar itu semakin marah. Pria itu
lalu mencoba memukul Zulfan yang justru ditepis dengan mudah olehnya. Zulfan
memukul perut pria itu, tetapi pria itu menendang kaki Zulfan hingga ia
terjatuh. Pria itu kemudian mendekat, mencoba menginjak-injak Zulfan yang masih
tersungkur.
“BERHENTI
KALO ENGGAK SAYA TELPON POLISI!” ancam Dita sehingga pria besar itu mulai
menjauh dari Zulfan.
Langit
menimbulkan semburat oranye tanda hari yang semakin sore, orang-orang
berdatangan melihat Zulfan yang sedikit lebam di wajahnya. Pria besar itu
menatap Dita dengan tatapan tajam dan ganas, ia terlihat marah. Dita yang tidak
takut sama sekali justru membalas tatapan itu lebih tajam.
“Awas
lu ya!” pria itu berteriak kemudian lari dari tempat itu, ia mungkin lebih
memilih cari aman ketimbang berurusan dengan polisi.
Dita
pun langsung membantu Zulfan untuk berdiri. Kemeja yang Zulfan kenakan terlihat
kotor dan robek sedikit, sisi bibirnya juga robek akibat pukulan pria tadi.
Tapi ia masih sempat tersenyum.
“Kamu
gak apa-apa kan, Dit?” tanya Zulfan sambil menahan sakit.
“Aku
gak apa-apa, maaf gara-gara aku kamu jadi babak belur begini,” sesal Dita
Zulfan
tetap tersenyum, “Gak apa-apa, kebetulan aku nyariin kamu di daerah sini. Kata
Naya biasanya kamu bikin artikel di kafe terdekat sini. Jadi aku ke sini,
nyariin kamu,” ujar Zulfan
Dita
hanya terdiam, “Sebenernya ada yang mau aku bicarain, tapi karena situasinya
lagi gak pas, mendingan aku anterin kamu pulang, ya?” tanpa mendengar jawaban
dari Dita, Zulfan langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk ke
mobil.
Selama
perjalanan, Dita hanya terdiam. Zulfan yang merasa tidak enak dengan situasi
seperti itu memutuskan untuk bertanya. Ia berpikir mungkin Dita butuh tempat
untuk mengeluarkan unek-unek yang ia rasakan. Ia tahu Dita akhir-akhir ini
merasa stress karena belum menemukan tujuan setelah ia lulus kuliah, ditambah
kejadian tadi mungkin membuat pikirannya lebih ruwet.
“Kamu
gak apa-apa kan, Dit?” tanyanya
Lamunan
Dita langsung buyar dengan pertanyaan Zulfan. Ia tersenyum tipis, “Aku gak
apa-apa. Kamu nanya mulu. Kamu tuh yang harusnya ditanya. Muka babak belur begitu,”
ucap Dita
Zulfan
tertawa kecil, “Kamu diem aja sih dari tadi, masih shock sama kejadian
tadi? Lagian kok kamu bisa sih berurusan sama preman kaya gitu?”
Dita
menatap lurus ke jalanan, “Aku sih biasa aja. Cuma tadi aku habis ketemu
anak-anak jalanan yang dikasarin sama preman itu dan aku gak suka. Maksudku,
anak-anak seusia mereka kan seharusnya di rumah. Belajar dan kumpul sama
keluarganya. Tapi mereka justru di pinggir jalan, ngamen, jualan asongan yang
kadang gak laku banyak, cuma untuk makan..” Dita menghela nafas.
“..
kadang aku ngerasa kurang bersyukur aja setelah melihat mereka.” lanjut Dita.
Zulfan
tersenyum, “Terus?”
“Ya
aku ngerasa kaya, hidup ini gak adil banget. Orang-orang yang gak bersyukur
kaya aku justru malah menyia-nyiakan nikmat yang udah Tuhan kasih ke aku. Aku
bisa sekolah sampai jadi sarjana, tapi aku malah gak bermanfaat sama sekali dan
gak memanfaatkan ilmu yang udah aku dapat dengan baik. Mereka kan pasti pengen
banget sekolah, tapi harus ada di jalanan mencari uang untuk makan dan juga
dikasari,” tuturnya panjang lebar.
Dita
benar-benar ditampar dengan kejadian-kejadian yang ia alami hari ini, dan
seharusnya ia bisa melakukan sesuatu untuk menolong bocah-bocah tadi. Ia
khawatir bocah-bocah itu akan dikasari lagi oleh preman itu.
“Hidup
itu adil, Dit. Kamu dipertemukan dengan mereka hari ini untuk menemukan tujuan
kamu yang sesungguhnya. Kamu sarjana pendidikan, dan mereka butuh pendidikan,”
ujar Zulfan
“Maksudnya?”
Zulfan
tertawa melihat Dita yang kebingungan, “Udahlah, nanti kalo sampe rumah kamu
pasti ngerti. Lusa kita ketemu di kafe biasa ya, nanti aku mau omongin yang
tadi aku bahas sama Papa kamu.”
Dita
hanya diam tak menjawab, mencoba mencerna kata-kata laki-laki yang sudah
menjadi teman baiknya selama kuliah itu.
*
Dita
hanya cemberut melihat ayahnya yang masih saja sibuk dengan kopi yang ternyata
dibawakan Zulfan. Ayahnya itu memang pecinta kopi, tapi sudah setengah jam
sejak Dita bercerita tentang apa yang ia alami kemarin sore dan ayahnya masih
tidak menanggapi.
“AYAH!”
Ayahnya
akhirnya menoleh, “Ayah denger aku gak, sih? Sibuk banget ngurusin kopi,” Dita
menggerutu.
Ayahnya
lantas tertawa dan pergi ke dapur meletakkan bungkusan berisi biji-biji kopi
tersebut, kemudian kembali ke ruang tengah masih dengan tawanya yang khas,
“Sabar, dong. Kamu tuh marah-marah mulu, lagi dateng bulan ya?” tanya
Ayahnya iseng.
Dita
berdecak, “Aku lagi gak bercanda, Yah!” ia berseru kesal.
“Itu
alasan ayah kenapa ayah mau kamu jadi sarjana pendidikan. Karena ayah yakin,
kamu bisa jadi salah satu pejuang yang bisa membangkitkan pendidikan di negara
kita ini,” kata Ayahnya tiba-tiba
“Maksud
ayah?”
“Duh
kamu nih, Dit. Kamu inget gak dulu pas kamu masih SD? Kamu berani banget keluar
dari mobil di saat lagi macet-macetnya, cuma untuk ngasih uang ke anak jalanan.
Dan kamu melakukan itu atas dasar kepedulian kamu sendiri, makanya ayah percaya
kamu suatu hari bakal jadi orang hebat yang berguna untuk orang-orang kecil,”
jelas Ayahnya
“Tapi,
Yah-“
Ayahnya
tersenyum kecil, “Orang kecil itu gak butuh uang, mereka bisa cari uang dengan
cara apapun. Tapi setelah uang itu habis, mereka mungkin kehabisan akal juga.
Ujung-ujungnya mereka bakal mencuri dan kalo sial, mereka bakal berakhir di
penjara dan digebukin orang-orang. Tapi kalo mereka berpendidikan, mereka akan
selalu punya cara untuk hidup. Itu makanya, kenapa berpendidikan lebih penting
dari berharta.” Tutur sang Ayah
Dita
menghela nafas. Ia malah merasa semakin putus asa dengan penuturan Ayahnya
barusan, “Aku gak tau harus mulai dari mana.”
“Nah
itu dia, Zulfan punya cara untuk kamu mengawali semuanya,”
Dita
sontak menoleh kebingungan, “Kok Zulfan, sih, Yah?” tanyanya
Ayahnya
hanya senyum-senyum tanpa arti, “Dia itu emang calon menantu ideal, Dit. Kamu
jangan gantungin terus lah, kasian dia. Eh tapi kamu juga jangan nikah dulu,
ya. Nanti ayah kesepian,”
Dita
sontak memukul lengan ayahnya, “Ih ayah apaan sih!”
Ayahnya
hanya tertawa, “Eh, nanti kamu durhaka, loh, pukul pukul Ayah,”
“Ayah!!”
*
“Rumah
singgah?”
“Iya,
rumah singgah,” Zulfan mengangguk kemudian menatap Dita dengan penuh keyakinan.
Melihat
Dita yang terlihat antusias, Zulfan pun melanjutkan, “Proyek rumah singgah ini
sebenernya udah lama dipersiapkan, Dit. Aku yang kasih ide ke Papa. Sebagai
konsultan pendidikan, Papa pengen banget bisa membantu orang-orang kecil.
Beliau itu mirip banget sama kamu, gampang tersentuh. Makanya beliau langsung
setuju pas aku kasih ide tentang rumah singgah ini. Sekarang rumah singgah ini
udah selesai dibangun di daerah Jatinegara, sementara di daerah lain masih
tahap pembangunan,” tuturnya.antusias
“Jadi
kamu pengen aku ikut mengurusi rumah singgah ini?” tanya Dita
Zulfan
tersenyum lalu mengacak-acak rambut Dita gemas, “Iya, lah. Ngapain aku
ngejelasin panjang lebar begini kalo aku gak minta kamu ngurusi ini semua? Aku
yakin kamu itu orang yang satu pemikiran dengan Papa,” jawabnya
Dita
tidak sanggup berkata-kata tentang apa yang ia rasakan. Senang, terkejut, dan
sekaligus sedikit takut. Ini adalah jalan yang mungkin bisa mempertemukannya
dengan tujuannya, dan ia yakin itu. Tapi apa ia bisa?
Zulfan
kemudian menggenggam pergelangan tangan Dita dan mengajaknya beranjak dari
kursinya, “Kamu gak perlu takut, karena aku bakal selalu ada buat kamu. Aku
bakal selalu support kamu, apapun yang kamu pilih. Kalau kamu mau
menolak juga gak apa-apa,” ucapnya tiba-tiba
“Tapi
sekarang kamu ikut aku dulu. Kita lihat rumah singgah yang ada di Jatinegara,”
lanjut Zulfan kemudian mengajak Dita pergi dari restoran itu
Tidak
butuh waktu lama, Dita dan Zulfan sampai di rumah singgah itu. Hari ini Jakarta
memang agak mendung, jadi udara sedikit sejuk di daerah Jatinegara. Anak-anak
terlihat tengah serius bermain permainan edukasi yang diarahkan oleh beberapa
relawan. Ada juga yang tengah antusias membaca buku-buku Rumah singgah itu terlihat hidup dengan tawa
anak-anak yang menggema, teriakan antusias mereka dalam belajar, dan raut wajah
yang begitu gembira. Matanya berkaca-kaca melihatnya. Ada suatu kebahagiaan
yang timbul melihat kegembiraan mereka dan rasanya ia ingin jadi alasan dari
semua itu.
Zulfan
tersenyum melihat ekspresi Dita, “Lihat, mereka seneng banget ada di sini.
Belajar, bermain, menumbuhkan bakat, dan melakukan banyak hal yang bisa bikin
mereka lebih baik di masa depan. Kamu yakin gak mau jadi bagian dari semua
itu?”
“Iya,
aku mau, Fan. Aku selalu mau jadi alasan untuk kebahagiaan mereka,” jawabnya
pelan, tulus dari hatinya yang terdalam.
“Tapi
kamu harus bantuin aku, ada anak-anak yang harus aku tolong,” ujar Dita
Zulfan
tersenyum lagi, “Pasti, aku bakal bantuin kamu.”
*
Dita
mendatangi kolong jembatan tempat kedua bocah yang ia temui beberapa hari lalu
tinggal yaitu Bima dan Ivana. Dari kejauhan Dita mengintip dibalik tiang
jembatan dan melihat yang Bima tengah membawa buku yang cukup tebal. Bima
kemudian menunjukkan buku itu kepada adiknya, Ivana. Ivana yang melihat buku
itu terlihat berbinar-binar bahagia seperti orang yang baru menemukan segepok
uang. Buku itu terlihat usang dan sedikit robek-robek tetapi masih bisa dibaca.
Bima
meletakkan buku itu dihadapan adiknya, “Sekarang, Abang mau cerita tentang
perjuangan Cut Nyak Dien dan pahlawan-pahlawan di Aceh dalam melawan penjajahan
Belanda,”
Ivana
terlihat begitu antusias dan terus menyimak Bima yang bercerita. Dita takjub
melihat Bima, anak itu pasti sering sekali membaca. Dalam keterbatasan ia tetap
mencari cara untuk belajar, seperti halnya mencari buku-buku bekas yang telah
dibuang. Bahkan Dita menyadari bahwa ada beberapa bagian dari sejarah yang Bima
ceritakan pada adiknya itu yang tidak pernah ia ketahui dan hanya orang-orang
yang menyukai buku-buku sejarah yang mungkin mengetahuinya.
“Wah
keren banget, Bang. Aku pengen deh jadi kayak Cut Nyak Dien. Perempuan yang
berani melawan kejahatan!” ujar Ivana antusias.
Bima
mengelus-elus puncak kepala adik kesayangannya itu, “Makanya kalau nanti kita
punya uang, kamu harus lanjutin sekolah, ya. Biar kamu bisa jadi wanita yang
cerdas dan berani kaya Cut Nyak Dien.”
“Abang
juga! Biar abang bisa jadi professor yang hebat. Ahli sejarah!” seru Ivana
antusias
Ah
benar sekali, anak-anak itu pasti putus sekolah karena kekurangan biaya. Dita
semakin merasa malu karena dirinya yang kurang bersyukur. Kalau saja mereka
melanjutkan sekolah, mereka pasti akan jadi anak-anak yang pintar. Bima pasti
akan jadi anak yang paling jenius di sekolah dan Ivana pasti akan jadi anak
yang kritis dan berani. Ia harus bisa membawa Bima dan Ivana ke rumah singgah
dan hal yang perlu ia singkirkan adalah pria besar berwajah preman itu.
“Loh,
kakak yang kemarin? Ngapain di sini?” sebuah suara tiba-tiba membuyarkan
pikiran Dita.
Dita
terkejut sontak meloncat mundur, “Loh kalian kok tau kakak ada di sini?”
Ivana
tertawa membuat Dita tertawa malu, sementara Bima masih bertahan dengan
ekspresi bingung karena mungkin melihat Dita yang tiba-tiba ada di sini.
Sejurus
kemudian Dita mengeluarkan dua bungkus nasi dari tasnya, “Kakak bawa makanan
buat kalian, ayo makan dulu.”
Dita
hanya senyum-senyum sendiri melihat kedua bocah itu makan dengan lahap. Ivana
selalu terlihat riang dan polos, ia gadis kecil cantik yang bisa membuat
siapapun senang berkenalan dengannya. Lalu Bima adalah kebalikannya. Ia adalah
bocah laki-laki yang tampan dan terlihat cerdas, tapi ia cukup pendiam. Mereka
harus memiliki masa depan yang baik dan Dita berjanji pada dirinya sendiri
kalau ialah yang akan membantu mereka.
“Kakak
kenapa bisa ada di sini?” tanya Ivana sambil mengunyah pelan.
“Ehm.
Ivana abisin dulu makanannya,” tegur Bima.
Dita
tersenyum simpul, “Sebelum kakak kasih tau, kalian mau kan jawab pertanyaan
kakak?”
Bima
yang sudah menghabiskan makanannya pun menyeletuk, “Asal bukan matematika pasti
kita jawab, Kak,” dan sontak itu membuat Dita tertawa cukup keras.
“Oke,
oke, sekarang kakak mau tanya. Kalian sejak kapan mulai tinggal di kolong
jembatan? Orang tua kalian kemana? Kok kalian bisa diasuh sama pria preman
itu?” tanya Dita bertubi-tubi.
“Bang
Daus maksud kakak?” tanya Ivana yang dijawab dengan anggukan dari Dita
Bima
menjawab dengan wajah sendu, begitu juga Ivana, “Orang tua kami udah meninggal,
Kak. Sejak umurku 8 tahun dan Ivana masih 4 tahun. Kami masih sangat kecil
waktu itu, terus Bang Daus datang dan berjanji mau mengasuh kami. Kami memang
dikasih makan walaupun kadang harus seporsi berdua bahkan bertiga, tapi kami
juga sering dikasari,” tutur bocah laki-laki itu.
Dita
terdiam, ia melihat ada luka lebam di sisi kiri wajah Bima yang membuatnya
reflek memegang wajah bocah itu, “Ini lebam karena masalah dengan kakak waktu
itu, ya?” tanya Dita prihatin
Bima
tersenyum, “Gak masalah, Kak. Udah biasa. Yang penting Ivana gak diapa-apain
sama dia,” jawab Bima pasrah kemudian melanjutkan banyak cerita tentang betapa
susah hidup mereka selama ini. Betapa irinya mereka melihat gerombolan anak
sekolah yang pulang tiap sore menggunakan seragam sekolah mereka. Melihat
anak-anak sekolah yang mewakili sekolah mereka dalam perlombaan. Dan apa yang
mereka tak bisa lakukan hampir semuanya pernah Dita lakukan.
“Kalian
mau ikut gak sama kakak ke rumah singgah punya temen kakak. Kalian gak perlu
susah payah lagi seperti di sini. Makan tepat waktu, belajar, mengembangkan
bakat yang kalian punya,” ajak Dita tanpa basa-basi
“Mau,
Kak! Mau!” seru Ivana senang
Bima
menatap Dita, mencoba mencari kejujuran karena ia takut Dita akan sama seperti
Bang Daus yang ia ceritakan itu, “Kakak serius, kan?”
“Aku
mau kak, tapi-“
“LU
LAGI, LU LAGI. GAK ADA KAPOKNYA YA NYARI GARA-GARA SAMA GUE?” suara garang itu
muncul lagi, dan Dita yakin itu pasti pria preman yang bocah-bocah itu sebut
dengan ‘Bang Daus’. Kali ini ia muncul dengan gerombolannya.
Melihat
Bima dan Ivana yang ketakutan, Dita langsung mendekap mereka. Ia berjanji tidak
akan membiarkan mereka tetap dimanfaatkan oleh Daus.
“Saya
mau bawa anak-anak ini ke rumah singgah. Mereka bakalan lebih aman dan bisa
hidup lebih layak di sana!”ujar Dita sengit
Daus
menggeram garang, “Lu itu tau apa soal kami, hah!? Lu itu cuma orang-orang kaya
yang bisanya merendahkan kami! Mereka lebih baik nyari duit dari pada
buang-buang duit ke sekolah. Mereka itu butuh makan, bukan rumus matematika!”
“Tapi
mereka bisa punya kehidupan yang lebih baik dengan pendidikan! Mereka bisa
menghasilkan banyak uang dengan bakat dan kemampuan yang mereka punya dengan
diasah di sekolah dan tentunya MEREKA GAK AKAN GAMPANG DIMANFAATKAN OLEH ORANG
YANG BUSUK MACAM ANDA!” Dita menjawab marah, ia benar-benar tak suka dengan perkataan
Daus.
Daus
meludah, “Cuih, udahlah banyak omong ya, hajar!”
Belum
sempat gerombolannya mendekati Dita dan anak-anak itu, segerombolan polisi
bersama dengan Zulfan sudah ada di depan mereka dengan menodongkan senjata api
ke arah para preman itu.
“ANGKAT
TANGAN!”
Preman-preman itu sontak terkejut dan mengangkat
tangannya termasuk Daus hingga akhirnya para polisi segera meringkus mereka
dengan cepat.
“BAPAK GAK BISA
NGELAKUIN INI! ANAK-ANAK ITU BUTUH SAYA!” Daus menggeram saat polisi memborgol
tangannya.
“DIAM!” bentak salah satu polisi kemudian membawa Daus
secara paksa
Daus menatap tajam Dita, Zulfan, Bima dan juga Ivana
hingga kedua anak itu bersembunyi dibalik tubuh Zulfan dan Dita, “Awas lo
semua,” desisnya kemudian ia berserta anak buahnya menghilang bersamaan dengan
sirene mobil polisi yang mulai memudar dari pendengaran.
*
Rumah
singgah yang ia beri nama “Rumah Merpati” itu kini semakin berwarna dengan
kehadiran Ivana dan Bima. Mereka berdua benar-benar cepat akrab dan aktif dalam
segala kegiatan. Dita yang sudah mulai mengajar pun semakin senang melihat
perkembangan anak-anak itu. Mungkin memang ini yang sudah menjadi jalannya.
Ayahnya
benar, Ia memang harus memperjuangkan para generasi penerus bangsa yang sedang
tumbuh seperti mereka. Kalau bukan dia lalu siapa? Terlalu banyak orang apatis
di negeri ini.
“Dit,
aku mau nanya. Kenapa kamu kasih nama rumah singgah ini dengan ‘Rumah
Merpati’?” tanya Zulfan sore itu, ketika senja mulai menghiasi langit sore
Jakarta.
Dita
tersenyum simpul, “Karena mereka-mereka itu..,” Dita kemudian menunjuk para
anak-anak yang sedang bermain, “.. adalah calon merpati-merpati dewasa yang
siap menerbangkan bangsa kita sampai ke puncak.” Jawabnya mantap.
SELESAI
NB: OH HAI HALOOO! SUDAH LAMA TIDAK UPDATE BLOG INI HAHAH, JADI CERPEN ABAL - ABAL INI ADALAH CERPEN YANG PERNAH DILOMBAKAN TAPI TIDAK MENANG GUYS :( CUMA HARAPANNYA ADALAH CERPEN INI BISA MEMBUKA PIKIRAN KITA KALAU KITA INI BERUNTUNG, MASIH LEBIH BERUNTUNG DARI KEBANYAKAN ORANG DILUAR SANA.
DAN YA ISI CERPEN INI SEBENERNYA BAGIAN DARI MIMPI GUE BUAT MUNGKIN SUATU HARI SAAT GUE PUNYA BANYAK UANG, GUE PENGEN PUNYA RUMAH SINGGAH UNTUK ANAK-ANAK TIDAK MAMPU. GUE PENGEN MENGATASI PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI NEGARA INI. KALO KALIAN PUNYA VISI DAN MISI YANG SAMA, AYO KITA BERJUANG SAMA-SAMA.
MOHON MAAF CAPSLOCK JEBOL YA GUYS.
THANK YOU FOR READING :)
| Sertifikat pernah dilombakan tapi tydac menang wkwk |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar