Selasa, 03 September 2019

RUMAH MERPATI

Senja mulai menghiasi langit kota Jakarta sore itu, lalu lintas mulai padat karena orang-orang mulai keluar dari tempat mereka bekerja untuk kembali menuju rumah. Dita menyeruput kopi espresso yang tinggal setengah di cangkirnya, sembari menatap ratusan kalimat di layar laptopnya, hasil karyanya sendiri. Sesekali menengok keadaan ibukota dari balik kaca kafe itu, lalu merasa iri dengan orang-orang yang memiliki kesibukan.

Ia memang suka membandingkan dirinya dengan orang-orang. Seorang sarjana pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta yang sudah lulus 6 bulan lalu belum punya pekerjaan yang membuatnya dipandang, ia hanya menjadi seorang content writer di sebuah agensi majalah. Untungnya ia belum mendengar cibiran dari para tetangga, ayahnya sendiri juga belum membandingkannya dengan kakak-kakak sepupunya. Makanya terkadang juga ia masih nyaman-nyaman saja.

Baguslah.

Ia tidak perlu terburu-buru.


Karena ia sendiri masih mempertanyakan apa yang harus ia lakukan dengan embel-embel ‘pendidikan’ di belakang namanya. Semua ini pilihan ayahnya, karena ayahnya adalah seorang dosen di sebuah universitas negeri ternama. Padahal, kakak-kakaknya tidak pernah dipaksa mengikuti jejak sang Ayah. Kenapa ia justru harus mengikuti kemauan ayahnya? Berkuliah di jurusan yang tidak pernah ia inginkan sejak awal.

Mama
Balik ke rumah sebelum malam, tadi Zulfan dateng ke rumah. 
Katanya ada hal penting. Kamu ditelponin gak bisa.

 








Dita kembali menyeruput kopinya sampai habis, kemudian mengecek pesan yang masuk ke ponselnya.

Dita segera memasukkan laptopnya ke tas dan meninggalkan kafe itu. Lagipula ia memang harus pulang, sudah mulai sore dan ia sudah berjam-jam duduk dan berkutat dengan artikelnya. Menjadi bagian dari hiruk pikuk kota yang berumur hampir lima abad itu sepertinya tidak buruk, walaupun melelahkan pada akhirnya.

Ia pun menapaki trotoar yang terlihat mulai sedikit rusak dimakan usia. Sambil berjalan menuju stasiun ia termenung melihat keramaian Tanah Abang yang sudah berkali-kali ia lihat, akan tetapi baru kali ini menampar hati nuraninya. Bukan tentang para pedagang terlihat kelelahan lalu mulai menutup kios-kios besar mereka, mereka pasti sudah meraup banyak keuntungan dan mengantongi banyak uang. Tapi ini tentang anak-anak kecil dengan baju kumal bahkan ada yang sudah compang-camping, mencari rezeki di tengah-tengah kemacetan dan keramaian.

“Kak, mau beli kacang?” sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

Dita kemudian menunduk dan melihat anak laki-laki yang mungkin baru berumur sekitar tujuh tahun, menawarkan dagangannya padanya. Anak kecil itu menggunakan pakaian yang lusuh, wajahnya pun terlihat kusam karena mungkin sudah seharian menjajakan dagangan dan terkena debu juga asap kendaraan.

Anak sekecil ini? Bukannya dia harusnya di rumah dan belajar?” hatinya bersuara, tidak kuasa melihat anak kecil yang ada di hadapannya saat ini.

Dita pun berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan anak laki-laki tersebut, “Satu bungkus berapaan, Dek?” tanyanya lembut.

“Dua ribu, Kak.”

Tanpa berpikir panjang Dita langsung mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari dompetnya dan memberikannya kepada anak laki-laki itu, “Kakak beli lima puluh ribu ya,” ujarnya seraya tersenyum

Mata anak laki-laki itu serta merta berbinar-binar karena senang, mungkin baru kali ini ada yang mau membeli sebanyak ini kacang-kacangnya. Ia terlihat gemetar mengambil lembaran berwarna biru itu, kemudian memberikan seplastik penuh berisi bungkus-bungkus kacang yang sudah mendingin kepada Dita.

“Makasih banyak udah mau beli daganganku, Kak. Dari pagi aku keliling gak ada yang mau beli,” ucap anak itu tulus, matanya berbinar senang dan haru.

Dita tersenyum kemudian mengelus-elus kepala anak itu, “Sama-sama ya, Dek. Itu untuk kamu makan ya, jangan di pakai untuk yang gak perlu,” kata Dita yang disambut anggukan oleh anak itu.

Anak itu kemudian pergi meninggalkan Dita yang masih terpaku dengan hatinya yang tersentuh. Ia tinggal di kota metropolitan ini sejak ia lahir, dan sejak lahir pula ia hidup serba berkecukupan. Mungkin anak itu ingin sekali bisa sepertinya, lulus sampai sarjana dan mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi justru seorang sarjana sepertinya malah tidak menggunakan ilmu yang ia dapatkan selama berkuliah dengan baik.

Ditengah kegundahan yang Dita rasakan tepat di tengah keramaian Tanah Abang sore itu, tiba-tiba saja seseorang mencoba mengambil dompetnya.

Dita yang merasakannya dan terkejut, sontak ia menoleh dan melihat seorang gadis kecil yang berlari membawa dompetnya. Gadis kecil itu berumur sekitar delapan tahun. Tetapi belum jauh gadis itu berlari, seorang anak laki-laki berumur sekitar dua belas tahun menangkapnya dan menyeretnya kembali ke tempat Dita berdiri.

Anak laki-laki itu menyodorkan dompet kulit miliknya, “Ini punya kakak, kan? Maafin adikku ya, kak,” ucapnya tulus.

Dita tertegun, “Adiknya?

Dita mengambil dompetnya dari tangan anak laki-laki itu, lalu terdiam melihat anak laki-laki itu mengomeli gadis kecil yang ia katakan sebagai adiknya. Ia bahkan belum sempat berteriak kalau ia kecopetan.

“Abang kan udah bilang, jangan sekali-kali mencuri! Itu haram, Van. Kamu mau makan makanan haram, hah?” bentak anak itu ke adiknya

Gadis kecil itu mulai menangis, “Aku laper, Bang. Aku nungguin Abang gak dateng-dateng,” kata gadis itu kemudian sesegukan

“Tapi gak berarti kamu harus mencuri! Siapa yang ngajarin kamu? Sekarang kamu minta maaf ke kakak ini, ayo cepet!” perintahnya yang membuat adiknya semakin menangis

Dita hanya tersenyum, “Udah, Dek. Gak apa-apa, kakak ngerti. Terimakasih sudah jadi anak yang jujur ya,” Dita kemudian duduk menyejajarkan tingginya ke gadis kecil yang tengah menangis itu

Gadis kecil itu mulai berhenti menangis, “Maafin aku, ya, Kak. Aku dan Abang habis ngamen terus uang kami dicuri, aku kelaparan. Sudah 4 hari gak makan. Makanya aku niat ngambil uang kakak. Maaf, ya, Kak,” ujar gadis itu menyesal
            
Pernyataan gadis itu membuatnya merasa tertampar dengan kenyataan-kenyataan di sekitarnya. Hidupnya tidak sekeras yang bocah-bocah kecil itu rasakan. Ia bahkan tidak pernah merasakan sulitnya cari uang seperti mereka Ternyata ia selama ini hanya menjadi orang yang sama dengan kebanyakan orang di ibukota. Apatis dan egois.
            
“Kalau gitu..,” Dita pun mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikannya kepada mereka, “.. ini untuk kalian makan ya, jangan sampai hilang lagi,” kata Dita lalu mengelus-elus kepala gadis kecil itu
            
Anak laki-laki itu melotot kaget, “Eh.. eh.. Kak, jangan. Adikku kan tadi berniat mencuri dari kakak, masa kakak malah kasih kami uang. Cukup maafin kami saja, Kak. Gak apa-apa,” tolak sang Abang halus
            
Dita tetap memaksa, ia mengambil lengan anak laki-laki itu dan meletakkan uang seratus ribu itu di genggaman tangannya, “Gak apa-apa, anggap aja ini rezeki kamu.
            
Anak laki-laki itu menahan tangis, “Terimakasih banyak, Kak. Maaf kami merepotkan.” Anak laki-laki itu memegangi tangan Dita, benar-benar berterimakasih.
            
“Siapa nama kalian?” tanya Dita.
            
“Namaku Bima dan ini adikku Ivana.”
            
“Kalian tinggal dimana?”
            
“Kami tinggal di kolong jembatan sana, Kak,” jawab Ivana seraya menunjuk ke arah tempat yang mereka ia maksud.
            
Dita kemudian melihat ke arah Bima. Bima melotot dan ia terlihat ketakutan melihat sesuatu dari arah lain, “V-van.. Kita harus kembali,” ucapnya dengan nada ketakutan, Ivana yang kemudian melihat ke arah yang sama dengan Bima sontak ikut ketakutan.
            
“Kalian kenapa?” tanya Dita kebingungan
            
“WOY BOCAH NGAPAIN KALIAN NGOBROL BUKANNYA KERJA, HAH!?” suara garang seorang pria tiba-tiba terdengar, membuat terkejut Dita dan anak-anak kecil yang tengah bersamanya.
            
Pria itu berbadan tinggi besar, umurnya mungkin sudah 35 tahun. Ia menggunakan pakaian yang mungkin bisa dikatakan seperti preman jalanan pada umumnya. Pria itu menghampirinya lalu menarik tangan kedua bocah itu., “Kalian.. Bukannya kerja, cari uang buat makan, malah santai-santai di sini. Gangguin orang yang lagi belanja. Sana cepat kerja lagi!” bentak pria itu lalu mendorong Bima dan Ivana dengan kasar
            
Dita merasa kesal dan perilaku pria itu pada bocah-bocah malang yang barusan ia tolong itu, “Abang bisa gak, jangan kasar sama mereka!? Ini salah saya yang ganggu mereka,” kata Dita dengan nada tinggi
            
Pria berbadan besar itu menatapnya sengit, “Lu tau apa sih soal mereka, hah? Kalo mereka dilembutin nanti manja, gak bisa dipake buat cari makan!” bentak pria itu
            
“Loh, cari kerja tuh ya pake tenaga sendiri! Kok situ malah memanfaatkan anak-anak? Gak malu sama badan?” balas Dita sengit yang membuat pria besar itu terlihat marah.
            
Tangan pria itu terangkat ke atas bersiap untuk menampar Dita yang justru malah membalas dengan wajah sengit. Ia tak takut sama sekali, “BANYAK OMONG LU, YA!!” teriak pria itu yang membuat matanya terpejam. Ia bersiap merasakan tamparan pria besar itu, tapi ternyata sebuah tangan menahan tangan pria itu.
            
“Zulfan!?”
            
Zulfan menepis tangan pria besar itu dan berdiri di depan Dita, “Kamu gak apa-apa, Dit?”
            
Dita hanya mengangguk. Ia sebenarnya agak terkejut dengan kehadiran Zulfan yang tiba-tiba begini, tapi setidaknya ia bersyukur karena tidak jadi merasakan tamparan pria besar dihadapannya.
            
“Lu jangan ikut campur!” desis pria itu.
            
Zulfan terlihat marah, matanya melotot seperti ingin keluar, “Laki-laki macem apa lu!? Beraninya kasar sama perempuan, sini kalo mau lawan gue!” tantang Zulfan
            
Zulfan pun memukul wajah pria itu yang akhirnya dibalas dengan pukulan tepat diperut Zulfan. Sontak Dita kaget dan mulai ketakutan.
            
“Zulfan!” teriaknya
            
Zulfan justru tersenyum sengit yang membuat pria besar itu semakin marah. Pria itu lalu mencoba memukul Zulfan yang justru ditepis dengan mudah olehnya. Zulfan memukul perut pria itu, tetapi pria itu menendang kaki Zulfan hingga ia terjatuh. Pria itu kemudian mendekat, mencoba menginjak-injak Zulfan yang masih tersungkur.
            
“BERHENTI KALO ENGGAK SAYA TELPON POLISI!” ancam Dita sehingga pria besar itu mulai menjauh dari Zulfan.
           
Langit menimbulkan semburat oranye tanda hari yang semakin sore, orang-orang berdatangan melihat Zulfan yang sedikit lebam di wajahnya. Pria besar itu menatap Dita dengan tatapan tajam dan ganas, ia terlihat marah. Dita yang tidak takut sama sekali justru membalas tatapan itu lebih tajam.
            
“Awas lu ya!” pria itu berteriak kemudian lari dari tempat itu, ia mungkin lebih memilih cari aman ketimbang berurusan dengan polisi.
            
Dita pun langsung membantu Zulfan untuk berdiri. Kemeja yang Zulfan kenakan terlihat kotor dan robek sedikit, sisi bibirnya juga robek akibat pukulan pria tadi. Tapi ia masih sempat tersenyum.
            
“Kamu gak apa-apa kan, Dit?” tanya Zulfan sambil menahan sakit.
            
“Aku gak apa-apa, maaf gara-gara aku kamu jadi babak belur begini,” sesal Dita
            
Zulfan tetap tersenyum, “Gak apa-apa, kebetulan aku nyariin kamu di daerah sini. Kata Naya biasanya kamu bikin artikel di kafe terdekat sini. Jadi aku ke sini, nyariin kamu,” ujar Zulfan
           
Dita hanya terdiam, “Sebenernya ada yang mau aku bicarain, tapi karena situasinya lagi gak pas, mendingan aku anterin kamu pulang, ya?” tanpa mendengar jawaban dari Dita, Zulfan langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk ke mobil.
            
Selama perjalanan, Dita hanya terdiam. Zulfan yang merasa tidak enak dengan situasi seperti itu memutuskan untuk bertanya. Ia berpikir mungkin Dita butuh tempat untuk mengeluarkan unek-unek yang ia rasakan. Ia tahu Dita akhir-akhir ini merasa stress karena belum menemukan tujuan setelah ia lulus kuliah, ditambah kejadian tadi mungkin membuat pikirannya lebih ruwet.

“Kamu gak apa-apa kan, Dit?” tanyanya
            
Lamunan Dita langsung buyar dengan pertanyaan Zulfan. Ia tersenyum tipis, “Aku gak apa-apa. Kamu nanya mulu. Kamu tuh yang harusnya ditanya. Muka babak belur begitu,” ucap Dita
            
Zulfan tertawa kecil, “Kamu diem aja sih dari tadi, masih shock sama kejadian tadi? Lagian kok kamu bisa sih berurusan sama preman kaya gitu?”
            
Dita menatap lurus ke jalanan, “Aku sih biasa aja. Cuma tadi aku habis ketemu anak-anak jalanan yang dikasarin sama preman itu dan aku gak suka. Maksudku, anak-anak seusia mereka kan seharusnya di rumah. Belajar dan kumpul sama keluarganya. Tapi mereka justru di pinggir jalan, ngamen, jualan asongan yang kadang gak laku banyak, cuma untuk makan..” Dita menghela nafas.
           
“.. kadang aku ngerasa kurang bersyukur aja setelah melihat mereka.” lanjut Dita.
            
Zulfan tersenyum, “Terus?”
            
“Ya aku ngerasa kaya, hidup ini gak adil banget. Orang-orang yang gak bersyukur kaya aku justru malah menyia-nyiakan nikmat yang udah Tuhan kasih ke aku. Aku bisa sekolah sampai jadi sarjana, tapi aku malah gak bermanfaat sama sekali dan gak memanfaatkan ilmu yang udah aku dapat dengan baik. Mereka kan pasti pengen banget sekolah, tapi harus ada di jalanan mencari uang untuk makan dan juga dikasari,” tuturnya panjang lebar.
            
Dita benar-benar ditampar dengan kejadian-kejadian yang ia alami hari ini, dan seharusnya ia bisa melakukan sesuatu untuk menolong bocah-bocah tadi. Ia khawatir bocah-bocah itu akan dikasari lagi oleh preman itu.
            
Hidup itu adil, Dit. Kamu dipertemukan dengan mereka hari ini untuk menemukan tujuan kamu yang sesungguhnya. Kamu sarjana pendidikan, dan mereka butuh pendidikan,” ujar Zulfan
           
“Maksudnya?”
            
Zulfan tertawa melihat Dita yang kebingungan, “Udahlah, nanti kalo sampe rumah kamu pasti ngerti. Lusa kita ketemu di kafe biasa ya, nanti aku mau omongin yang tadi aku bahas sama Papa kamu.”
            
Dita hanya diam tak menjawab, mencoba mencerna kata-kata laki-laki yang sudah menjadi teman baiknya selama kuliah itu.
*
            
Dita hanya cemberut melihat ayahnya yang masih saja sibuk dengan kopi yang ternyata dibawakan Zulfan. Ayahnya itu memang pecinta kopi, tapi sudah setengah jam sejak Dita bercerita tentang apa yang ia alami kemarin sore dan ayahnya masih tidak menanggapi.
            
“AYAH!”
            
Ayahnya akhirnya menoleh, “Ayah denger aku gak, sih? Sibuk banget ngurusin kopi,” Dita menggerutu.
            
Ayahnya lantas tertawa dan pergi ke dapur meletakkan bungkusan berisi biji-biji kopi tersebut, kemudian kembali ke ruang tengah masih dengan tawanya yang khas, “Sabar, dong. Kamu tuh marah-marah mulu, lagi dateng bulan ya?” tanya Ayahnya iseng.
           
Dita berdecak, “Aku lagi gak bercanda, Yah!” ia berseru kesal.
            
“Itu alasan ayah kenapa ayah mau kamu jadi sarjana pendidikan. Karena ayah yakin, kamu bisa jadi salah satu pejuang yang bisa membangkitkan pendidikan di negara kita ini,” kata Ayahnya tiba-tiba
           
“Maksud ayah?”
            
“Duh kamu nih, Dit. Kamu inget gak dulu pas kamu masih SD? Kamu berani banget keluar dari mobil di saat lagi macet-macetnya, cuma untuk ngasih uang ke anak jalanan. Dan kamu melakukan itu atas dasar kepedulian kamu sendiri, makanya ayah percaya kamu suatu hari bakal jadi orang hebat yang berguna untuk orang-orang kecil,” jelas Ayahnya
            
“Tapi, Yah-“
            
Ayahnya tersenyum kecil, “Orang kecil itu gak butuh uang, mereka bisa cari uang dengan cara apapun. Tapi setelah uang itu habis, mereka mungkin kehabisan akal juga. Ujung-ujungnya mereka bakal mencuri dan kalo sial, mereka bakal berakhir di penjara dan digebukin orang-orang. Tapi kalo mereka berpendidikan, mereka akan selalu punya cara untuk hidup. Itu makanya, kenapa berpendidikan lebih penting dari berharta.” Tutur sang Ayah
            
Dita menghela nafas. Ia malah merasa semakin putus asa dengan penuturan Ayahnya barusan, “Aku gak tau harus mulai dari mana.”
            
“Nah itu dia, Zulfan punya cara untuk kamu mengawali semuanya,”
            
Dita sontak menoleh kebingungan, “Kok Zulfan, sih, Yah?” tanyanya
            
Ayahnya hanya senyum-senyum tanpa arti, “Dia itu emang calon menantu ideal, Dit. Kamu jangan gantungin terus lah, kasian dia. Eh tapi kamu juga jangan nikah dulu, ya. Nanti ayah kesepian,”
            
Dita sontak memukul lengan ayahnya, “Ih ayah apaan sih!”
            
Ayahnya hanya tertawa, “Eh, nanti kamu durhaka, loh, pukul pukul Ayah,”
            
“Ayah!!”
*
            
“Rumah singgah?”
            
“Iya, rumah singgah,” Zulfan mengangguk kemudian menatap Dita dengan penuh keyakinan.
           
Melihat Dita yang terlihat antusias, Zulfan pun melanjutkan, “Proyek rumah singgah ini sebenernya udah lama dipersiapkan, Dit. Aku yang kasih ide ke Papa. Sebagai konsultan pendidikan, Papa pengen banget bisa membantu orang-orang kecil. Beliau itu mirip banget sama kamu, gampang tersentuh. Makanya beliau langsung setuju pas aku kasih ide tentang rumah singgah ini. Sekarang rumah singgah ini udah selesai dibangun di daerah Jatinegara, sementara di daerah lain masih tahap pembangunan,” tuturnya.antusias
            
“Jadi kamu pengen aku ikut mengurusi rumah singgah ini?” tanya Dita
           
Zulfan tersenyum lalu mengacak-acak rambut Dita gemas, “Iya, lah. Ngapain aku ngejelasin panjang lebar begini kalo aku gak minta kamu ngurusi ini semua? Aku yakin kamu itu orang yang satu pemikiran dengan Papa,” jawabnya
            
Dita tidak sanggup berkata-kata tentang apa yang ia rasakan. Senang, terkejut, dan sekaligus sedikit takut. Ini adalah jalan yang mungkin bisa mempertemukannya dengan tujuannya, dan ia yakin itu. Tapi apa ia bisa?
            
Zulfan kemudian menggenggam pergelangan tangan Dita dan mengajaknya beranjak dari kursinya, “Kamu gak perlu takut, karena aku bakal selalu ada buat kamu. Aku bakal selalu support kamu, apapun yang kamu pilih. Kalau kamu mau menolak juga gak apa-apa,” ucapnya tiba-tiba
            
“Tapi sekarang kamu ikut aku dulu. Kita lihat rumah singgah yang ada di Jatinegara,” lanjut Zulfan kemudian mengajak Dita pergi dari restoran itu
            
Tidak butuh waktu lama, Dita dan Zulfan sampai di rumah singgah itu. Hari ini Jakarta memang agak mendung, jadi udara sedikit sejuk di daerah Jatinegara. Anak-anak terlihat tengah serius bermain permainan edukasi yang diarahkan oleh beberapa relawan. Ada juga yang tengah antusias membaca buku-buku  Rumah singgah itu terlihat hidup dengan tawa anak-anak yang menggema, teriakan antusias mereka dalam belajar, dan raut wajah yang begitu gembira. Matanya berkaca-kaca melihatnya. Ada suatu kebahagiaan yang timbul melihat kegembiraan mereka dan rasanya ia ingin jadi alasan dari semua itu.
            
Zulfan tersenyum melihat ekspresi Dita, “Lihat, mereka seneng banget ada di sini. Belajar, bermain, menumbuhkan bakat, dan melakukan banyak hal yang bisa bikin mereka lebih baik di masa depan. Kamu yakin gak mau jadi bagian dari semua itu?”
            
“Iya, aku mau, Fan. Aku selalu mau jadi alasan untuk kebahagiaan mereka,” jawabnya pelan, tulus dari hatinya yang terdalam.
            
Tapi kamu harus bantuin aku, ada anak-anak yang harus aku tolong,” ujar Dita
            
Zulfan tersenyum lagi, “Pasti, aku bakal bantuin kamu.”
*
            
Dita mendatangi kolong jembatan tempat kedua bocah yang ia temui beberapa hari lalu tinggal yaitu Bima dan Ivana. Dari kejauhan Dita mengintip dibalik tiang jembatan dan melihat yang Bima tengah membawa buku yang cukup tebal. Bima kemudian menunjukkan buku itu kepada adiknya, Ivana. Ivana yang melihat buku itu terlihat berbinar-binar bahagia seperti orang yang baru menemukan segepok uang. Buku itu terlihat usang dan sedikit robek-robek tetapi masih bisa dibaca.
            
Bima meletakkan buku itu dihadapan adiknya, “Sekarang, Abang mau cerita tentang perjuangan Cut Nyak Dien dan pahlawan-pahlawan di Aceh dalam melawan penjajahan Belanda,”
            
Ivana terlihat begitu antusias dan terus menyimak Bima yang bercerita. Dita takjub melihat Bima, anak itu pasti sering sekali membaca. Dalam keterbatasan ia tetap mencari cara untuk belajar, seperti halnya mencari buku-buku bekas yang telah dibuang. Bahkan Dita menyadari bahwa ada beberapa bagian dari sejarah yang Bima ceritakan pada adiknya itu yang tidak pernah ia ketahui dan hanya orang-orang yang menyukai buku-buku sejarah yang mungkin mengetahuinya.
            
“Wah keren banget, Bang. Aku pengen deh jadi kayak Cut Nyak Dien. Perempuan yang berani melawan kejahatan!” ujar Ivana antusias.
            
Bima mengelus-elus puncak kepala adik kesayangannya itu, “Makanya kalau nanti kita punya uang, kamu harus lanjutin sekolah, ya. Biar kamu bisa jadi wanita yang cerdas dan berani kaya Cut Nyak Dien.”
            
“Abang juga! Biar abang bisa jadi professor yang hebat. Ahli sejarah!” seru Ivana antusias
            
Ah benar sekali, anak-anak itu pasti putus sekolah karena kekurangan biaya. Dita semakin merasa malu karena dirinya yang kurang bersyukur. Kalau saja mereka melanjutkan sekolah, mereka pasti akan jadi anak-anak yang pintar. Bima pasti akan jadi anak yang paling jenius di sekolah dan Ivana pasti akan jadi anak yang kritis dan berani. Ia harus bisa membawa Bima dan Ivana ke rumah singgah dan hal yang perlu ia singkirkan adalah pria besar berwajah preman itu.
            
“Loh, kakak yang kemarin? Ngapain di sini?” sebuah suara tiba-tiba membuyarkan pikiran Dita.
            
Dita terkejut sontak meloncat mundur, “Loh kalian kok tau kakak ada di sini?”
            
Ivana tertawa membuat Dita tertawa malu, sementara Bima masih bertahan dengan ekspresi bingung karena mungkin melihat Dita yang tiba-tiba ada di sini.
            
Sejurus kemudian Dita mengeluarkan dua bungkus nasi dari tasnya, “Kakak bawa makanan buat kalian, ayo makan dulu.”
            
Dita hanya senyum-senyum sendiri melihat kedua bocah itu makan dengan lahap. Ivana selalu terlihat riang dan polos, ia gadis kecil cantik yang bisa membuat siapapun senang berkenalan dengannya. Lalu Bima adalah kebalikannya. Ia adalah bocah laki-laki yang tampan dan terlihat cerdas, tapi ia cukup pendiam. Mereka harus memiliki masa depan yang baik dan Dita berjanji pada dirinya sendiri kalau ialah yang akan membantu mereka.
            
“Kakak kenapa bisa ada di sini?” tanya Ivana sambil mengunyah pelan.
            
“Ehm. Ivana abisin dulu makanannya,” tegur Bima.
            
Dita tersenyum simpul, “Sebelum kakak kasih tau, kalian mau kan jawab pertanyaan kakak?”
            
Bima yang sudah menghabiskan makanannya pun menyeletuk, “Asal bukan matematika pasti kita jawab, Kak,” dan sontak itu membuat Dita tertawa cukup keras.
            
“Oke, oke, sekarang kakak mau tanya. Kalian sejak kapan mulai tinggal di kolong jembatan? Orang tua kalian kemana? Kok kalian bisa diasuh sama pria preman itu?” tanya Dita bertubi-tubi.
            
“Bang Daus maksud kakak?” tanya Ivana yang dijawab dengan anggukan dari Dita
            
Bima menjawab dengan wajah sendu, begitu juga Ivana, “Orang tua kami udah meninggal, Kak. Sejak umurku 8 tahun dan Ivana masih 4 tahun. Kami masih sangat kecil waktu itu, terus Bang Daus datang dan berjanji mau mengasuh kami. Kami memang dikasih makan walaupun kadang harus seporsi berdua bahkan bertiga, tapi kami juga sering dikasari,” tutur bocah laki-laki itu.
            
Dita terdiam, ia melihat ada luka lebam di sisi kiri wajah Bima yang membuatnya reflek memegang wajah bocah itu, “Ini lebam karena masalah dengan kakak waktu itu, ya?” tanya Dita prihatin
            
Bima tersenyum, “Gak masalah, Kak. Udah biasa. Yang penting Ivana gak diapa-apain sama dia,” jawab Bima pasrah kemudian melanjutkan banyak cerita tentang betapa susah hidup mereka selama ini. Betapa irinya mereka melihat gerombolan anak sekolah yang pulang tiap sore menggunakan seragam sekolah mereka. Melihat anak-anak sekolah yang mewakili sekolah mereka dalam perlombaan. Dan apa yang mereka tak bisa lakukan hampir semuanya pernah Dita lakukan.
           
“Kalian mau ikut gak sama kakak ke rumah singgah punya temen kakak. Kalian gak perlu susah payah lagi seperti di sini. Makan tepat waktu, belajar, mengembangkan bakat yang kalian punya,” ajak Dita tanpa basa-basi
            
“Mau, Kak! Mau!” seru Ivana senang
            
Bima menatap Dita, mencoba mencari kejujuran karena ia takut Dita akan sama seperti Bang Daus yang ia ceritakan itu, “Kakak serius, kan?”
            
“Aku mau kak, tapi-“
            
“LU LAGI, LU LAGI. GAK ADA KAPOKNYA YA NYARI GARA-GARA SAMA GUE?” suara garang itu muncul lagi, dan Dita yakin itu pasti pria preman yang bocah-bocah itu sebut dengan ‘Bang Daus’. Kali ini ia muncul dengan gerombolannya.
            
Melihat Bima dan Ivana yang ketakutan, Dita langsung mendekap mereka. Ia berjanji tidak akan membiarkan mereka tetap dimanfaatkan oleh Daus.
            “Saya mau bawa anak-anak ini ke rumah singgah. Mereka bakalan lebih aman dan bisa hidup lebih layak di sana!”ujar Dita sengit
            
Daus menggeram garang, “Lu itu tau apa soal kami, hah!? Lu itu cuma orang-orang kaya yang bisanya merendahkan kami! Mereka lebih baik nyari duit dari pada buang-buang duit ke sekolah. Mereka itu butuh makan, bukan rumus matematika!”
            
“Tapi mereka bisa punya kehidupan yang lebih baik dengan pendidikan! Mereka bisa menghasilkan banyak uang dengan bakat dan kemampuan yang mereka punya dengan diasah di sekolah dan tentunya MEREKA GAK AKAN GAMPANG DIMANFAATKAN OLEH ORANG YANG BUSUK MACAM ANDA!” Dita menjawab marah, ia benar-benar tak suka dengan perkataan Daus.
            
Daus meludah, “Cuih, udahlah banyak omong ya, hajar!”
            
Belum sempat gerombolannya mendekati Dita dan anak-anak itu, segerombolan polisi bersama dengan Zulfan sudah ada di depan mereka dengan menodongkan senjata api ke arah para preman itu.
            
“ANGKAT TANGAN!”
            
Preman-preman itu sontak terkejut dan mengangkat tangannya termasuk Daus hingga akhirnya para polisi segera meringkus mereka dengan cepat.


Preman-preman itu sontak terkejut dan mengangkat tangannya termasuk Daus hingga akhirnya para polisi segera meringkus mereka dengan cepat.

 “BAPAK GAK BISA NGELAKUIN INI! ANAK-ANAK ITU BUTUH SAYA!” Daus menggeram saat polisi memborgol tangannya.

“DIAM!” bentak salah satu polisi kemudian membawa Daus secara paksa

Daus menatap tajam Dita, Zulfan, Bima dan juga Ivana hingga kedua anak itu bersembunyi dibalik tubuh Zulfan dan Dita, “Awas lo semua,” desisnya kemudian ia berserta anak buahnya menghilang bersamaan dengan sirene mobil polisi yang mulai memudar dari pendengaran.

*
Rumah singgah yang ia beri nama “Rumah Merpati” itu kini semakin berwarna dengan kehadiran Ivana dan Bima. Mereka berdua benar-benar cepat akrab dan aktif dalam segala kegiatan. Dita yang sudah mulai mengajar pun semakin senang melihat perkembangan anak-anak itu. Mungkin memang ini yang sudah menjadi jalannya.

Ayahnya benar, Ia memang harus memperjuangkan para generasi penerus bangsa yang sedang tumbuh seperti mereka. Kalau bukan dia lalu siapa? Terlalu banyak orang apatis di negeri ini.

“Dit, aku mau nanya. Kenapa kamu kasih nama rumah singgah ini dengan ‘Rumah Merpati’?” tanya Zulfan sore itu, ketika senja mulai menghiasi langit sore Jakarta.

Dita tersenyum simpul, “Karena mereka-mereka itu..,” Dita kemudian menunjuk para anak-anak yang sedang bermain, “.. adalah calon merpati-merpati dewasa yang siap menerbangkan bangsa kita sampai ke puncak.” Jawabnya mantap.
SELESAI


NB: OH HAI HALOOO! SUDAH LAMA TIDAK UPDATE BLOG INI HAHAH, JADI CERPEN ABAL - ABAL INI ADALAH CERPEN YANG PERNAH DILOMBAKAN TAPI TIDAK MENANG GUYS :( CUMA HARAPANNYA ADALAH CERPEN INI BISA MEMBUKA PIKIRAN KITA KALAU KITA INI BERUNTUNG, MASIH LEBIH BERUNTUNG DARI KEBANYAKAN ORANG DILUAR SANA.

DAN YA ISI CERPEN INI SEBENERNYA BAGIAN DARI MIMPI GUE BUAT MUNGKIN SUATU HARI SAAT GUE PUNYA BANYAK UANG, GUE PENGEN PUNYA RUMAH SINGGAH UNTUK ANAK-ANAK TIDAK MAMPU. GUE PENGEN MENGATASI PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI NEGARA INI. KALO KALIAN PUNYA VISI DAN MISI YANG SAMA, AYO KITA BERJUANG SAMA-SAMA. 

MOHON MAAF CAPSLOCK JEBOL YA GUYS.
THANK YOU FOR READING :)

Sertifikat pernah dilombakan tapi tydac menang wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar