Well, it's been a long time after posting the last post and now I'm going to write something which has been distracting my mind along this year. Ini tentang Indonesia yang semakin hari semakin terlihat menyedihkan hahaha.
Oke, no offense, ya ini adalah pemikiran anak muda sebelum sewaktu-waktu kebebasan pers bakal dilarang lagi. Di sini gue cuma mau menyampaikan pendapat-pendapat gue tentang berdemokrasi di Indonesia and I will not take side with any candidate. Karena buat gue yang penting gue udah memilih berdasarkan hati, siapapun yang kelak maju jadi pemimpin negara ini pasti orang terbaik dan pasti ingin Indonesia lebih baik. Well, the positive thinking.
Pertama, ada pengalaman menyedihkan yang bikin gue miris dengan demokrasi di Indonesia khususnya menjelang pemilu 17 April kemarin. Ya sebagai anak muda yang baru pertama kali dikasih kesempatan memilih gue sangatlah kudet dengan kampanye-kampanye atau ya visi misi dan segala macam janji-janji dari kedua kubu. So, at the first time I thought I would choose not to choose alias golput.
Alasan gue golput sederhana. Kedua kubu selalu saling menjelekkan satu sama lain, saling menghujat, saling memfitnah dan menyebarkan hoax yang engga-engga. Lebih menyedihkannya lagi ketika gue belajar di sekolah gue dulu, banyak sekali yang menyudutkan orang-orang yang gak sejalan dengan mereka. I mean, contoh ya di sekolah itu mendukung sekali salah satu kubu hampir 95% adalah pendukung kubu tersebut, lalu yang 4% ini adalah kubu satunya dan 1% sisanya adalah golput. Lalu ketika gue contohnya yang masuk di bagian 4% itu disudutkan dengan kalimat-kalimat yang gimana ya, gue gak bisa menjelaskan detail tapi intinya ini membawa agama yang gue percayai. HANYA KARENA GUE BERBEDA PILIHAN. Nah wajar dong kalo gue tiba-tiba pengen milih golput aja? Because the candidates didn't assure me enough to choose.
Tapi karena gue berpikir, well this is my first time, dan pastinya suara anak muda seperti gue yang jadi harapan bangsa ini sangat dibutuhkan. Akhirnya, I did a research. Gue mencari data-data, nonton debat capres, membaca sejarah, dan yang pasti mencoba mencari kebenaran lewat hoax-hoax yang selama ini beredar di masyarakat dan lebih menyedihkannya lagi malah dipercayai. Sampe paginya, gue pun memutuskan untuk memilih alias gak jadi golput. Memang sih, menurut gue kedua kubu ini punya kejelekkan besar yang diketahui dan sangat diingat oleh bangsa ini kalo kita baca sejarah. Tapi diantara keduanya ada kejelekkan yang menurut gue unforgettable and unforgiven.
Dan setelah selesai pemilihan, esoknya gue kembali ke sekolah. Lalu mereka-mereka yang sangat menentang keras keputusan gue untuk golput pun bertanya "Nin, lo gak jadi golput kan? Terus pilih siapa?" dan gue cuma geleng-geleng terus bilang "Rahasia dong, yang penting gue gak golput." then, because of knowing about my family choice, salah satu orang bilang begini "Awas aja ampe lo milih -***- gue musuhin lo,". Wow, gue cuma diam tapi rasanya pengen ketawa. Miris banget ya sebuah pertemanan harus hancur karena berbeda pilihan, sementara selama ini kita hidup di negara dengan orang-orang yang berbeda-beda. I'm Batavian, but my friends come from many places in the country. Itu artinya juga anak-anak muda Indonesia sedang miris-mirisnya gak bisa berpikir jernih karena gak mau meriset semua berita yang mereka terima.
Kedua, Are we gonna let this disunity become bigger only because this election-thing? Negara kita ini day by day semakin parah. Ketika dulu para pahlawan kita yang sampe relain nyawa mereka demi menyatukan negara yang pulaunya banyak banget ini, negara yang hebat banget ini seandainya rakyatnya mau mikir, negara yang besar ini, kita justru malah menciptakan perpecahan itu sendiri dengan melawan bangsa sendiri. Perang saudara. Civil War (oke ini bukan film Avenger). Parahnya lagi anak-anak muda yang harusnya bisa berpikiran lebih terbuka ditengah-tengah kelabilan mereka dalam mencari jati diri, malah ikut-ikutan dalam perpecahan ini. How pathetic.
Ketiga, mungkin ini kedengarannya basi tapi memang jarang sekali di dengar. Coba buka pikiran kalian, politik negara ini udah terlalu kotor dan kita sebagai rakyat sebenarnya gak tahu menahu apapun. We just feel the sorrow, feel the suffer of being citizen of Indonesia dan kita menuntut, tapi kita gak memberikan saran. Pemerintah juga manusia, masa iya lo nganggur nyalahin pemerintah, lo miskin salahin pemerintah, lo sakit dan lain-lain nyalahin pemerintah. Pemerintah memang mengusahakan semuanya, tapi kita juga gak bisa berpangku tangan gitu aja. Kalo lo mau dapet kerja alias gak nganggur then you have to be worthy. Lo harus bikin diri lo memang pantas dapat pekerjaan. Lah kalo lo nganggur terus lo gak ada usaha, lo mau nyalahin pemerintah gitu? Siapapun pemimpinnya kalo lo sendiri gak worthy or skilled or having something to make you deserved, ya lo gak bakalan bisa mencapai taraf hidup yang lo inginkan. Bahkan kalo lo pindah ke negara lain pun ya nasib lo bakal sama aja.
Gue mungkin cuma anak yang baru punya KTP hampir setahun yang lalu, dan gue belom bisa ngasih apa-apa buat bangsa ini, bahkan gue sendiri masih sering dilarang kemana-mana ama orang tua. But in this limitation, I'm trying to do something to realize you all, my friends to stop this jokes, stop this civil war. Karena lo semua, kita adalah orang-orang yang 10-20 tahun lagi akan memegang bangsa ini, menjadi pemimpin.
Makanya, let's get up together and fight this disunity. Tetap saling menghargai walaupun berbeda pilihan. Apakah persahabatan harus putus karena beda? Apakah hubungan kerabat dan tetangga harus pecah karena beda?
Ayo kita berdemokrasi dengan damai, dan saling menghargai pilihan.
#SalamDamai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar